Tampilkan postingan dengan label Literature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literature. Tampilkan semua postingan

5.22.2015

Puisi Kontemporer: Cinta

CINTA
CINTa CINtA
CINta CInTa CIntA
CInta CiNta CinTa CintA
Cinta cInta ciNta cinTa cintA


Cinta ditulis bagaimanapun atau disebutkan dalam bahasa manapun ga pernah akan sama dengan cinta yang ditunjukkan dengan tindakan.
Cinta yang sejati muncul bukan pada perkataan, bukan pada pikiran atau bayangan. Tapi cinta sejati muncul dari sebuah tindakkan
.


Pada Senyum yang Tak Pernah Ada

Kak
Ibu dan ayah lirih
Hanya ada aku
Dan kau pergi
Tanpa Kata

Kak
Disini bising
Akan kefana'an

Manusia berlari
Tak tentu arah
Mencari kesempurnaan palsu

Kak
Hidup tak begitu indah
Kedalaman hati
Yang tak satu setanpun tahu
Sepi, sendiri dan tidak dimengerti

Kak
Hidupku rendah
Membebani Ibu dan Ayah

Hidupku penuh kecurigaan
Hidupku penuh kebohongan
Hidupku penuh ketakutan
Hidupku penuh kemunafikan

Kak
Apa kau baik disana?

Aku rindu bersamamu
Di dunia kita
Dunia satu bahasa
Bahasa cinta Ibu pada anak-anaknya
Bahagia
Tanpa batas

Itu telah berlalu
Kau pergi tanpa jejak

Kak
Bertemukah engkau dengan Tuhan?

Tanyakan pada-Nya
Mengapa engkau yang pergi
Tanyakan
Mengapa aku yang tak pantas
Yang memiliki hidup

Kak
Apa kau kecewa padaku?
Seperti Ibu dan Ayah kecewa padaku
Apa Tuhan juga kecewa padaku?

Pada kenyataannya
Aku manusia itu
Yang tak tentu arah

Dan setelah 17 tahun ini
Lihatlah ke langit luas
Aku tak pernah menanam apa-apa
Aku tak akan kehilangan apa-apa

Kak
Kelak
Aku akan segera melihat senyum mu


12.22.2013

Bisikan

Beberapa hari yang lalu aku mau bantu2 logistik Natal PMK. Hujan yang rintik2 dan mata yang sayup2 tampak menjadi lawan yang mudah. Aku sangat bersemangat, entah kenapa. Kakiku pun menuntunku masuk ke angkot Caheum-Ledeng. Seharusnya aku turun di gerbang belakang, tapi entah kenapa aku ingin sekali di parkiran sipil saja. Tiba2 saja hati menjadi manja dan kakiku menuruti hatiku. Tak juga kumengerti mengapa.

Tak lama, aku sampai di antara pepohonan lapangan sipil. Melewati rerumputan yang lembab dan pohon2 saksi-saksi sejarah yang tak mampu berkata2. Gedung sipil dan fisika seakan berbisik kepadaku,  tak dapat kudengar apa yang ia katakan. Sekejap aku merinding, mengingat betapa banyak orang besar yang pernah menjejakan kaki di tempat ini. Terlena dengan bayanganku, tak kusadari CC Barat menepuk bahuku. Ya, CC Barat, kawan lamaku. Entah berapa materi OSKM yang telah disusun di tempat ini. Entah berapa gerakan mahasiswa yang telah diserukan di tempat ini. Aku ingat kilau matahari pagi yang beriringan dengan kedatangan mahasiswa baru ITB di tempat ini. Matahari selalu mengingatkan akan hari esok.

Kakiku melangkah lagi melalui Plaza Widya. Kampus ini adalah tempat untuk bertanya dan pasti ada jawabannya kata Plawid. Senyum tak bisa kutahan dari bibirku. Betapa tinggi harapan bangsa ini pada mahasiswa Ganesha. Sisa waktuku sebagai mahasiswa, harus kupakai untuk menjadi jawaban. Entah mengapa kulewati Plawid, padahal rintik hujan masih bergantian menyambut.

Dari sana aku beranjak lagi melalui TVST dan Oktagon. Sepasang kakiku terhenti kembali. Tempat ini pernah punya arti yang begitu dalam, setidaknya untukku. Hanya nada taganing dan sulim yang menari didalam pikiranku. Seandainya aku lebih pintar membagi waktuku, lebih banyak kontribusi yang dapat kuberi. Mungkin Tuhan memang tidak inginkanku disana. Dan masih tak kupahami mengapa aku jalan melalui tempat ini.

Tetes air hujan jatuh membasahi rerumputan. Kembali ku dapati diriku termangu. Ku tatapi langit dan kurasakan angin yang berhembus disekelilingku. Akhirnya aku mengerti. Tuhan berbisik padaku melalui alam, melalui bangunan. Dia masih memanggilku untuk berkarya disini. Dia masih menantiku memberi jawab.
Biar waktu yang membuktikannya. Jawaban bagi permasalahan kampus. Kemudian Indonesia.

Akhirnya aku terus berjalan memenuhi tujuan ku semula untuk membantu logistik natal PMK ITB. Pelayanan yang tidak mudah, tapi Tuhan selalu yang pimpin kami. Kesetiaan melayani di perkap dan logistik adalah bekal yang sangat mahal dalam mengerjakan visi kemudian hari.



Visi tidak boleh berhenti hanya di kampus. Visi tidak boleh berhenti hanya di unit, di himpunan, di organisasi. Visi harus sampai pada Indonesia dan dunia. Perjuangkan visi kita bagi orang lain. Bukan semata karena mencari pahala, tapi leluhur kita telah memperjuangkan visi mereka bagi kita terlebih dahulu.
Bersyukurlah dengan berjuang!

Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku. Ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah perbuatanku - Hatta

Kawan, tidak satu visi pun sepele. Semua berharga bagi Ibu Pertiwi, semua berharga di mata Tuhan. Maka cari dan kerjakan visi. Heninglah sejenak untuk mendengarkan bisikan dan panggilan itu. Selamat mengerjakan visi, Tuhan memberkati :)

11.11.2011

Kembalilah dalam Ribaan

Anakku sayang, anakku malang
Muda
Tapi sudah harus menentang badai

Teringat dulu kau berlari di halaman
Ketika jatuh, kau cari ibu
Tak kuasa melihat air matamu
Tak kuasa melihat lukamu
Dan ibu memelukmu sambil berkata:
Jangan menangis, ibu ada disini

Sampailah pada hari itu
Hari kau sadar, duniaku terlalu kecil
Kau pergi dengan hati
Untuk menaklukkan hari

Anakku sayang, anakku malang
Apa yang kau temukan disana?
Bahagiakah engkau?

Ketahuilah doa ayah selalu menyertai
Semoga tercapai semua cita-citamu
Agar jangan sia-sia ayah bekerja
Kelak kau yang akan menuntun ayah
di masa tua nanti

Anakku sayang, anakku malang
Tahun sudah berlalu
Dibalik sore danau Toba
Aku belum menemukan bayanganmu

Terlupakah engkau akan aku?
Tanah tempatmu mengakar
yang diperjuangkan leluhurmu dengan darah.
Tak perduli apa yang terjadi
di tahun-tahun kau pergi.

Kembalilah dalam ribaanku
Anak ku Tatea Bulan, anak ku Isumbaon
Jangan terbeban lagi

Biar ku isi kembali 
Apa yang terhilang di perjalananmu
Biar ku cari
Apa yang tak kau temukan

12.13.2010

A Conversation with God

Me: God. I'm tired. I have too many problems.
God: Well son. Why don't you look back a bit. When you have similar problems. Have you become stronger?
Me: ....... I have.
God: I wanted you to finish stronger than others. That's why I'm going to give you more problems. Extraordinary things happens only to extraordinary people.
Me: God. Thanks. I'll be stronger than anyone. I'll surpass those before me. Only for You as my reason.
God: Than get back to work kiddo!

12.09.2010

Feel!

Come on hold my hand,
I wanna contact the living.
Not sure I understand,
This role I’ve been given.

I sit and talk to God
And he just laughs at my plans,
My head speaks a language, I don’t understand.

(chorus)
I just wanna feel real love,
Feel the home that I live in.
’cause I got too much life,
Running through my veins, going to waste.

I don’t wanna die,
But I ain’t keen on living either.
Before I fall in love,
I’m preparing to leave her.
I scare myself to death,
That’s why I keep on running.
Before I’ve arrived, I can see myself coming.

(chorus)
I just wanna feel real love,
Feel the home that I live in.
’cause I got too much life,
Running through my veins, going to waste.

And I need to feel, real love
And a life ever after.
I cannot get enough.

(instrumental)

(chorus)
I just wanna feel real love,
Feel the home that I live in,
I got too much love,
Running through my veins, going to waste.

I just wanna feel real love,
In a life ever after
There’s a hole in my soul,
You can see it in my face, it’s a real big place.

(instrumental)

Come and hold my hand,
I wanna contact the living,
Not sure I understand,
This role I’ve been given

Not sure I understand.
Not sure I understand.
Not sure I understand.
Not sure I understand.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sepenggal lirik lagu dari Robbie Williams. Hehe.

Akhir2 ini saya jadi suka jalan, sendiri, entah kenapa.

Mungkin bisa dibilang saya ini bodoh. Sudah 2 hari ini saya berjalan di sepanjang Cisitu, hujan2, ga pake payung. Haha.

Entahlah. Saya selalu ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang lain. Menurut saya penting bagi manusia untuk bisa merasakan rasa sakit orang lain. Karena tanpa hal itu maka kita hanya akan jadi makhluk angkuh yang tidak perduli terhadap sesama. Hehe.

Well. Karena ini sudah malam. Sepenggal ini aja dulu. Mungkin besok akan saya update tulisan ini. Hehe.

10.30.2010

On Nationalism and Life

















Siapa yang bisa nunjukin foto mana yang Lembah Surya Kencana dan mana yang Mandalawangi tanpa nyontek dari internet? (Jawab d komen, sebut nomor foto sesuai urutan dan foto di lembah mana. 5 foto aj deh g usah banyak2)

Hari ini saya tidak punya cerita tentang komsel saya selain kemarin kami komsel gabungan dipimpin oleh kak Victor. Hehe.

Hari ini saya ingin menyampaikan 2 hal pokok yang akhir2 ini sering muncul di pikiran saya.

Pertama adalah tentang menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme di dalam diri kita masing2.

Yang pertama tentang nasionalisme.

Hmmm. Aapakah pernah sekali saja terpikir oleh anda, mengapa saat ini sedikit sekali anak muda yang benar-benar perduli terhadap permasalahan bangsa ny?
Apakah kita tengah memasuki krisis nasionalisme yang parah? Mengapa pemuda2 jaman sekarang semangat kebangsaan ny sangat rendah bila dibandingkan dengan pemuda2 jaman perjuangan kemerdekaan?
Saya rasa ini adalah salah satu dampak dari globalisasi. Dahulu tantangan bagi pemuda adalah bangsa penjajah dan segala ideologi2 konyol mereka tentang bagaimana mensejaterahkan rakyat.
Namun sekarang, tantangan bagi kita bukanlah apa yang menjadi lawan kita namun apa yang menjadikan kita nyaman. Tidak kah ada seseorang yang sadar bahwa we've been to spoiled with all of these civilization.

Ya. Terlalu dimanja sampai2 kita lupa akan bangsa kita sendiri. Anak2 jaman sekarang pasti berpikir bahwa untuk mengenal bangsa ny, ia cukup browsing di internet. Liat di Wikipedia ato Google and then done.
Muncul serangkaian data tentang negara kita dari sana.

Kita juga sudah melihat, omong kosong-omong kosong para petinggi untuk memancing nasionalisme penerus2 mereka. Apakah itu berhasil atau tidak, saya meragukan efisiensi ny.
Mungkin ada beberapa pemuda yang merubah jalan pikir ny dan menjadi seorang nasionalisme. Tapi saya meragukan kata2 dan kalimat manusia mampu merubah jalan pikir manusia yang lain secara langsung seperti itu.

Lantas, mau dibawa kemana masa depan bangsa ini? Bangsa yang sudah semakin usang ditambah2 dengan pemuda2 ny yang sudah tidak simpatik lagi terhadap ny hanya akan berujung pada kehancuran.
jangankan bermimpi menjadi negara adikuasa seperti Amerika atau negeri kapitalis egois seperti beberapa tetangga kita, menjadi sebuah negara seperti Timor Leste pun kita tidak mampu barangkali.

Benar, kunci menjadi bangsa yang besar adalah pemuda. Dan jika satu aspek terpenting dari setiap pemuda untuk membangun negeri impian ini hilang, maka musnalah segala mimpi itu.
Butuh bukti? Skali lagi lihat Amerika. Idiot jika anda mengira Amerika telah menjadi bangsa yang besar sejak awal. Amerika juga dibangun dari nol. Hanya saja mereka lebih banyak memiliki pemuda2 patriot.
Mereka lebih bernyali menentang jaman. Mereka punya keyakinan besar untuk menundukan tantangan jaman mereka dan membangun negara ny. Lihatlah beberapa ratus tahun kemudian.
Rasa patriotis yang diturunkan turun temurun sudah membuat banyak sekali perubahan dari sebuah negara jajahan menjadi negara adidaya. Lalu dungu2 dari negara lain seperti Indonesia melihat mereka seakan2 mereka lebih dari segala hal ketimbang negarany sendiri.
Dungu2 di beberapa negara seperti Indonesia hanya melihat bangsa ini besar, betapa enaknya hidup di sebuah negara yang sarat akan gegap gempita dan kesejahteraan. Tidak kah ada yang sadar bahwa Amerika juga dibangun di atas darah2 perjuangan para leluhur mereka?
Tentu bangsa ini juga bisa menjadi besar dan menjadi negara adidaya seperti Amerika. Permasalahan ny adalah, kapan para pemuda ny sadar bahwa mereka harus segera bangun dari mimpi dan membangun bangsa ny?

Lagi2 patriotisme menjadi satu onani yang konyol bagi banyak anak muda jaman sekarang ini.

Bagi saya, patriotisme tidak akan pernah bisa ditumbuhkan oleh manusia. Patriotisme tidak bisa ditumbuhkan dengan sekedar melihat berita2 d media TV atau di koran. Hanya sedikit yang memberitakan kebenaran.
Patriotisme tidak akan bisa ditumbuhkan dengan membuat istana negara dan (lebih2) gedung yang mirip BH ijo raksasa sebagai kiblat nasionalisme. Patriotisme juga tidak bisa ditumbuhkan dengan sekedar merasa iba terhadap saudara2 kita yang terkena musibah.
Patriotisme tidak akan bisa ditumbuhkan dengan menjadikan kesombongan manusia sebagai puncak nya.

Patriotisme dan nasionalisme hanya bisa ditumbuhkan jika setiap dari kita bersedia mengenali Indonesia secara seutuh ny. Mulai dari rakyat sampai ke sumber2 alam nya. Yang terakhir itu yang paling penting.
Patriotisme susah sekali ditumbuhkan di tengah2 kota seperti yang sudah banyak kita lihat. Di kota, terutama di sebagian besar univ2 ternama, tiap tahun ny hanya menghasilkan budak2 sistem yang matirasa.
Matirasa terutama terhadap tantangan jaman yang sudah saya sebutkan sebelum ny. Banyak yang hanya terbuai dan menjadi tidak perduli. Berbeda sekali dengan suasana di pedesaan dan di alam.
Saya bisa menjumpai lebih banyak pemuda2 nasionalis di desa ketimbang di kota. Saya berani jamin itu. Mengapa? Karena orang desa lebih mengenal Indonesia ketimbang orang kota.

Berapa banyak orang kota yang sadar akan keindahan alam Indonesia? Hampir2 tidak ada. Mungkin di masa2 yang akan datang kita perlu memberlakukan terapi Nasionalisme ke sekolah2, univ2 dan kantor2.
Dengan mengadakan Jambore besar atau camp2 kecil namun sering ke berbagai pelosok Indonesia yang indah ini. Agar terketuk hati mereka dan muncul asa mereka akan kebangkitan bangsa ny.

Aristoteles mengatakan, "Hanya orang yang paham bagaimana alam bekerja yang akan dapat menggarisbahawi dan merumuskan masalah".

Seperti juga beberapa bait dari "Song of The Open Road" yang pernah saya publish di blog saya yang sebelum ny.

"Now I see the secret of the making if the best persons.
It is to grow in the open air, and to eat and sleep with the earth."

Sejujur ny saya pun bosan melihat ciptaan2 manusia. Tidak ada tempat lain dimana saya dapat merasakan kebesaran Tuhan yang paling besar selain ketika saya berada di alam liar d luar sana.

Saya rindu menyambut belaian angin di Lembah Surya Kencana.
Saya rindu berlairan di antara bunga Edelweiss
yang hanya sebatas dalam lagu atau file html bagi beberapa sahabat

Pernahkah kau merasakan bisikan angin diantara gunung2 yang tinggi?
Bisikan yang seakan2 berkata bahwa Tuhan itu nyata
Agung dan mulia

Lalu seketika bisikan itu menjadi sebuah seruan
Bangkit dan nyatakan kuasa Ku untuk kebangkitan bangsa mu
Tidak kah kau iba pada bangsa mu?


Ya. Sebelum kau terlambat menyadari betapa indahnya ciptaan Tuhan, betapa indah rencana-Nya dengan menaruhmu di negara ini, lebih baik kenalilah negerimu ini dari sekarang.

NB: Tulisan saya yang pertama ini saya tulis setelah membaca buku "40 tahun Mapala UI" di perpus. Kemudian semakin terinspirasi lagi oleh pameran Wanadri di CC barat.



Now, the second part. This is going to be very2 cool. Haha.

Actually. Lately, I've been thinking about what life is. About what is God's purpose of creating us.

Saya sedikit banya setuju dengan pendapat seorang filsuf Yunani dan argumen Buddha bahwa hidup adalah penderitaan. Btw, filsuf itu bilang: Nasib yang terbaik adalah tidak pernah dilahirkan.
Yang kedua, lahir tapi mati muda. Berbahagialah mereka yang mati muda.

Kita tentu selalu bertanya2 tentang arti dan tujuan hidup kita. Yang paling sering, kita mengeluh sama Tuhan kenapa kita menjadi kita. Kenapa Tuhan tidak menciptakan kita menjadi Brad Pitt ato siapalah tokoh ternama.
Kenapa Tuhan tidak menciptakan kita menjadi orang yang tinggal bersenang2 menghabiskan waktu have fun, ajeb2, ngehedon liar entah dimana tanpa menghabiskan semua uang kita.

Well. Kalo anda sempat berpikir seperti itu... Encounter lha *lho*
Maksud saya, bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat. Haha.

Sewaktu saya bertanya2 tentang itu. Entah mengapa saya mendapat Enlightmen tiba2 sewaktu membaca di perpus. Tiba Tuhan seperti berbicara dengan menunjuk satu kalimat dalam buku yang sedang saya baca.


"Bahwa hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya. Tanpa bisa kita menawar, tanpa bisa kita mengelak. Terimalah dan hadapilah".

Anugerah terbesar Tuhan (selain keselamatan dari Tuhan tentu) bagi saya bukan lah kehidupan itu sendiri. Namun sebuah kepercayaan untuk mengungkap kebenaran dari setiap tanda tanya-tanda tanya dalam hidup kita.
Lalu kekuatan untuk menjalani ny adalah yang kedua dan keberanian yang berikutny.

So guys. Jangan terlalu banyak bertanya-tanya dalam menjalani hidup (kayak saya). Karena terkadang, some things are meant to be not answered. *grammar kacau*

Tuhan punya rencana-Nya sendiri untuk setiap kita. Beranilah dalam melangkah. Dan hiduplah dengan merdeka.


In the end, gw mau ngasih satu lagu lagi nih buat kalian. Hehe. Agak2 ga nyambung. Tapi yang pasti menurut gw, kita sudah terlalu dimanja sama Tuhan. Kita sudah terlalu dimanja sama peradaban juga. Sadar atau tidak.
Kini sudah saatnya untuk bangkit kawan. Sudah saatnya untuk berhenti bermanja2. Berjuta rakyat diluar sana menanti tanganmu. Hehe. :)


NB: Waktu saya pulang dari gereja hari Minggu kemarin k kos d Cisitu, ada seseorang yang bernyanyi keras2 d kamar mandi. Suara ny bagus banget! Dan kebetulan dy nyanyi'in lagu ini. Jadi tak comot aj deh. Hehe.

8.22.2009

Kata yang Tak Terucap

[Cerpen jaman SMA]
Disana si bodoh itu duduk, tepat di belakang pujaan hatinya. Ini adalah tahun kedua yang ia lewati bersama wanita itu, tanpa mengucapkan apa-apa. Waktu menunjukkan pukul 09.45, Candi Prambanan, tujuan Bis itu pun sudah terlihat di depan mata. Akhirnya mereka semua turun dari Bis itu dan menjelajahi Candi tua itu layaknya anak ayam yang baru keluar kandang. Si bodoh berjanji semalam, pada pujaan hatinya, bahwa ia tidak akan pernah beranjak dari sisinya selama sisa perjalanan Live In. Kata si bodoh, ia ingin membuktikkan cintanya. Haha. Omong kosong ke sekian rupanya. 


Ya, ini adalah sebuah perjalanan Live In SMA biasa bagi hampir setiap orang. Namun banyak hal yang ada di luar nalar manusia yang terjadi. Mungkin cukup tidak masuk akal bagi orang-orang Eksakta atau kita sebut saja orang-orang IPA mempermasalahkan cinta. Tapi itulah yang terjadi. 2 Bis anak-anak IPA, penuh dengan kehangatan, tawa dan kebersamaan diluar hakikat mereka sebagai IPA yang sering dicap kaku. Mereka bukanlah anak-anak IPA biasa! Itu yang harus saya tekankan dari awal. 


Live in dimulai 4 hari sebelum hari si bodoh-terjatuh-untuk-kedua-kalinya. Sedangkan kisah cinta yang berat sebelah ini sudah dimulai jauh sebelum itu. Sebelum naik ke kelas 2IPA, si bodoh sudah melalui proses jatuh cinta. 4 bulan 37 hari lamanya waktu yang ia butuhkan untuk jatuh cinta pada pujaan hatinya itu. Tepat tahun baru, si bodoh menyatakkan akan mulai mengejar cinta pujaan hatinya itu. Pujaan hatinya itu telah salah besar memberikan si bodoh kesempatan. 


Satu hari di dalam Live in itu, tepat jam 4 pagi. Si bodoh bersama 2 temannya pergi dari rumah induk semang mereka. Bermodalkan senter, jaket dan sepasang sendal jepit Swallow yang sudah usang, si bodoh pergi menaklukkan subuh. Dia pikir dirinya adalah Pangeran Kuda Putih yang membawa pedang dan perisai untuk menyelamatkan putri tidur. Dengan gagah ia bersikukuh dalam hati untuk mengatakan 3 kata yang ingin ia ucapkan sejak semusim yang lalu. Ia berjalan bersama dua sahabat yang mengancam akan membunuhnya jika ia tidak berani mengucapkan kata-kata yang belum sempat ia ucapkan itu

.
Setengah jam berlalu, sampailah mereka di depan rumah induk semang Biblet, nama panggilan si bodoh untuk wanita itu. Lampu masih remang-remang, matahari pun masih malu-malu mengintip di balik tepian Merapi. Biblet dan 2 teman serumahnya masih tertidur lelap. Akhirnya si bodoh mengambil handphone dari sakunya. Dengan hati yang berdebar dan pulsa yang sekarat, ia pun menelpon Biblet. “Eh, bukan pintu dong.. Gw udah di depan rumah induk semang lo nih,” begitulah kalimat si bodoh. Dengan setengah mata terpejam, Biblet dan 2 temannya yang lain pun membukakan pintu.


Mulailah kedua sahabat si bodoh bersautan memaksa si bodoh mengungkap isi hatinya. “...Em.. em... Gimana live in nya?” tanya si bodoh pada Biblet. Namanya juga si bodoh, dia terlalu takut mengucapkan isi hatinya. Akhirnya mereka pun berbincang-bincang bersama sebelum pergi ke tempat teman-teman yang lain.
Mereka memutuskan pergi menuju tempat teman dekat Biblet. Mereka berjalan menyusuri kebun salak warga. Melintasi jalan setapak yang sudah tidak terhitung lagi jasanya bagi warga sekitar. Tibalah mereka pada suatu aliran sungai kecil. Disana begitu indah, lebih indah dari rangkaian bunga mawar. Si bodoh akhirnya mulai menyiapkan hatinya. Ia berhenti sebentar dan berjalan di samping Biblet. Mulai menyusun rencana busuk yang tidak diketahui Biblet. Ternyata si bodoh berniat mengucapkan kata-kata itu disini. Ketika yang lain sudah berjalan lebih dahulu dan menyisakan mereka berdua. Bukankah itu akan menjadi sebuah romansa anak muda yang indah? 


“Eh.. Sendal gw!” jerit salah satu teman Biblet yang memang sering dicap pengacau. Dan ternyata satu jeritan itu telah membuat si bodoh mengurungkan niat tulus nan busuknya. Sendal jepit si pengacau terselip di bebatuan sungai kecil itu. Si bodoh pun akhirnya melangkah lebih cepat sambil memukul kepala, “Mati gw!” katanya dalam hati. 


Candi Prambanan, saksi bisu sejarah sepasang. Konon, orang yang sedang menjalin hubungan yang dekat di Candi ini, kelak tidak akan dapat bersatu. Sehingga banyak sekali pasangan yang justru menghindari pasangannya masing-masing disini karena takut akan mitos tersebut. 


Tapi janji adalah janji, dan janji tidak dapat di ingkari. Si bodoh ini tetap melenggang dan berusaha melangkah di samping Biblet selama di Candi Prambanan. Si bodoh berpikir bahwa ia adalah seorang pahlawan yang dapat melakukkan apa saja yang diluar nalar manusia. “Aku percaya akan Tuhan. Mitos hanyalah omong kosong, pada akhirnya Tuhan yang menentukan segalanya,” kata si bodoh dalam hati.
Akhirnya si bodoh berfoto-foto ria bersama dengan beberapa teman lain. Tentu Biblet tetap menjadi objek foto yang terindah baginya. Si bodoh tidak pernah berpikir sebelumnya, entah keberanian atau kepengecutannya yang ingin ia sembunyikkan kelak akan membawanya pada kehancuran. 


Jam menunjukkan pukul 12.00. Mereka segera berkumpul kembali di Bis. Kali ini tujuan mereka adalah Malioboro. Perjalanan yang tidak begitu panjang diselingi dengan makan siang dan berbelanja Bakphia elit yang mungkin memang rekanan bisnis sang empunya Bis. Sekitar pukul 15.00 mereka tiba di Malioboro.
Si bodoh sudah pasti langsung mengekor Biblet dengan sigapnya. Mereka pun berjalan menyusuri lorong-lorong sempit Malioboro. Menghabiskan waktu bersama. Membeli beberapa baju untuk adik-adik kecil mereka. Sampai akhirnya mereka semua dipanggil kembali untuk berkumpul di Bis. 


Di dalam bis pun semua berjalan biasa-biasa saja. Canda, tawa yang tanpa disadari akan berubah menjadi sebuah tangisan tahun depan. Waktu yang penuh kebersamaan ini kelak sudah akan tiada. Kita harus terus melanjutkan hidup, entah kapan baru bisa bertemu kembali. 


Kini sore telah berganti menjadi malam. Sesudah makan malam, si bodoh mendapat keajaiban, ia duduk di sebelah Biblet.
“Gw pengen ngomong sesuatu nih sama lo,” kata si bodoh.
“Apa?” tanya Biblet dengan polosnya.
“Hadu.. Gimana ngomongnya ya... Susah,” jawab si bodoh.
“Apaan cepetan,” sahut Biblet.
“Ntar aja deh.. Ga jadi,” jawab si bodoh mengelak.
“Ck.. Ahh.. Yaudah, ga usah ngomong mendingan,” sentak Biblet.
“Ehm.. gw.. gw.., ah ribet ah ngomongnya,” gusar si bodoh itu.
“Ketik deh.. ketik..,” sahut Biblet sambil mengambil handphone si bodoh.
Akhirnya si bodoh dengan bodohnya mengetikkan kalimat yang berbeda dari yang ingin ia ucapkan. Ia menulis “Lo mau ga jadi cewe gw?” Dasar bodoh, namanya juga si bodoh tentu tindakannya juga bodoh. Ia terlalu pengecut untuk mengutarakan yang sesungguhnya.
“Lalu apa jawabannya?” tanya si bodoh dengan senyumnya yang menjijikan. “Hmmm.. Ntar aja ya,” jawab Biblet.
“Kok gitu.. Kapan?” tanya si bodoh penasaran.
“Gw bilang ntar ya ntar.. Mending ngitungin menit aja yu,” katanya sambil menunjuk jam digital di sebelah kiri depan Bis.
“Ayo.. Deh.,” jawab si bodoh dengan sedikit bertanya-tanya. 


Akhirnya sisa malam di Bis itu dilewati si bodoh semalaman dengan menatap wajah Biblet yang tertidur lelap di sampingnya. Wajah yang lelah itu, terlelap dalam malam. Kadang si bodoh sedikit tersenyum karena kepala Biblet yang senantiasa bergoyang ke kiri dan ke kanan. Si bodoh sama sekali tidak ingin beranjak dari momen ini. Baginya, menatap wajahnya sudah lebih dari cukup walau memang ada keinginan untuk memiliki. 


Beberapa bulan telah berlalu, kini mereka semua telah naik ke kelas 3 SMA. Si bodoh yang setengah mati mengejar cinta yang memang bertepuk sebelah tangan itu telah membuat lubangnya sendiri. Biblet pada akhirnya memilih bersama salah seorang teman si bodoh yang turut menemaninya ketika menyusuri malam ketika Live In dulu. 


Tapi satu hal, si bodoh yakin sekali kalau ini bukanlah karena Mitos Candi Prambanan. Ada batas yang jelas antara rasa cinta dan rasa sayang. Ketika kita mencintai seseorang, kita tidak perduli pada perasaan kita sendiri selama orang yang kita cintai itu bahagia. Rasa sayang sedikit jauh lebih egois dari itu. Cinta si bodoh tidak dibuktikan ketika Live In. Sesungguhnya cintanya harus dibuktikan ketika Biblet dan salah satu teman dekatnya menjadi sepasang kekasih. Ia harus ikut bahagia apapun kondisinya karena jika ia merasa sedih sedikit saja, berarti ia tidak benar-benar mencintai Biblet. Bagi si bodoh, cinta tidaklah harus memiliki. Walau memang terkadang kenyataan begitu pahit. Namun itulah hidup. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Segala sesuatunya kembali pada Tuhan. 


Si bodoh terkadang masih sedikit banyak bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia tidak yakin apakah bahagia atau sedih yang ada di dalam hatinya. Ia hanya bisa tersenyum ketika orang bertanya tentang Biblet. Bahkan sampai detik inipun, si bodoh belum sempat mengucapkan secara langsung kata-kata yang ingin ia sampaikan malam itu, kata-kata yang juga ingin ia sampaikan di sungai kecil itu. Kata-kata singkat yang sudah terlalu terlambat untuk diucapkan padanya. Kata-kata itu adalah, “Aku cinta kamu, terlalu mencintai kamu” 


Dan demikianlah si bodoh menuliskan beberapa halaman kehidupannya.